PART 1: Ketika Tanah Yang Kau Pijak Berguncang

AYAT PANDUAN

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.”
Mazmur 46:1–3

KONTEKS

Mazmur 46 tidak menjanjikan hidup tanpa masalah. Mazmur ini menggambarkan bumi yang berguncang, gunung-gunung runtuh, air yang mengamuk, dan bangsa-bangsa yang terguncang. Tetapi mazmur ini dimulai dengan kenyataan yang lebih kuat: Allah sendiri adalah tempat perlindungan, kekuatan, dan penolong yang selalu hadir. Keyakinan umat Tuhan bukan berdasarkan pada keadaan yang tenant, tetapi berdasarkan hadirat Tuhan yang tidak berubah.

PERENUNGAN

Ada saat-saat ketika hidup terasa seperti tanah yang kita pijak serasa sedang runtuh.

Hasil pemeriksaan dokter datang. Uang mulai menipis. Hubungan rusak. Anak sedang bermasalah. Pekerjaan berubah. Doa terasa belum dijawab. Sesuatu yang kita pikir aman aman saja, mulai terasa berguncang.

Mazmur 46 tidak menyangkali akan kenyataan ini. Mazmur ini tidak berkata, “Bumi tidak akan pernah berguncang.” Mazmur ini berkata, “Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah.”

Kata “sebab itu” sangat penting.

Karena Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita, kita tidak harus dikuasai oleh ketakutan ketika hidup menjadi tidak aman. Kedamaian kita tidak bergantung pada apakah keadaan ini akan segera  berubah. Kedamaian kita bergantung pada Pribadi yang tidak pernah berubah, yaitu Yesus Kristus. 

Allah bukan hanya menyediakan tempat perlindungan. Dia sendiri adalah tempat perlindungan kita.

Sering kali apa yang kita lakukan adalah lari ke tempat perlindungan yang justru sempit.  Ada bagian dalam diri kita yang lari kepada uang karena ingin merasa aman. Ada bagian lain yang lari kepada penguasaan karena ingin kepastian. Ada yang lari kepada kesibukan karena tidak ingin merasakan sakit. Ada juga yang lari kepada makanan, hiburan, kemarahan, hubungan dengan seseorang, atau keberhasilan karena ingin merasa lega.

Hal-hal ini mungkin memberi tempat persembunyian untuk sesaat, tetapi tidak bisa menanggung beratnya ketakutan kita.

Bagian diri yang cemas mungkin berkata, “Kalau aku bisa menyelesaikan ini, aku baru bisa tenang.”
Bagian yang ingin berkuasa mungkin berkata, “Kalau aku bisa membuat semua orang bekerja sama, aku akan aman.”
Bagian yang terus berusaha mungkin berkata, “Kalau aku bekerja lebih keras, akhirnya aku akan cukup.”
Bagian yang takut mungkin berkata, “Kalau keadaan ini tidak berubah, aku tidak akan sanggup.”

Tetapi Tuhan menyampaikan firman yang lebih baik: “Aku adalah tempat perlindunganmu. Aku adalah kekuatanmu. Aku hadir dalam kesesakan.”

Perhatikan: Tuhan tidak hanya ditemukan setelah masalah selesai. Akan tetapi justru Dia ditemukan di dalam masalah.

Artinya, kamu tidak harus menunggu sampai keuanganmu membaik, tubuhmu lebih sehat, keluargamu damai, atau masa depanmu jelas, kemudian baru datang kepada Tuhan. Kamu dapat senantiasa berlindung kepada Tuhan ketika badai masih bergelora.

Ini bukan berarti kita berpura-pura bahwa rasa sakit itu kecil. Tetapi kita menolak bahwa sakit itu bukan Tuhan.

Paulus belajar hal ini ketika Yesus berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Kekuatan Tuhan tidak menunggu sampai kekuatan kita benar-benar habis. Kekuatan-Nya sering terlihat paling jelas saat kita akhirnya mengakui bahwa kita tidak bisa memikul semuanya sendirian.

Injil memberitahukan kita bahwa Yesus datang ke dunia yang penuh guncangan ini. Dia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Di kayu salib, Dia memikul apa yang tidak sanggup kita pikul. Dalam kebangkitan-Nya, Dia memberi kita pengharapan hidup bahwa penderitaan, kehilangan, dan kematian tidak berkuasa untuk mengambil keputusan terakhir. 

Mungkin kamu tidak sanggup mengontrol apa yang sedang berguncang dalam hidupmu hari ini. Tetapi kamu dapat memilih ke mana kamu akan lari.

Larilah kepada Kristus.

PENDALAMAN

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”
2 Korintus 12:9

Tuhan tidak mempermalukan kita karena kelemahan-kelemahan kita. Dia menemui kita di sana dan menyatakan kuasa-Nya yang menopang.

PIKIRKAN HARI INI 

Damai bukan berarti tidak ada guncangan; damai adalah adanya hadirat Tuhan ketika segala sesuatu terasa tidak baik-baik saja. 

TANYAKAN PADA DIRI SENDIRI

Ketika hidup terasa tidak tenang, kepada siapakah terlebih dahulu aku datangi? Bagaimanakah keadaannya jika aku datang kepada Tuhan terlebih dahulu?

LAKUKANLAH

Saat ketakutan muncul, jangan langsung mencoba menyelesaikan dengan cara sendiri, atau coba untuk melihat jawaban dari media sosial, pergi berbelanja, menilpon atau mengirim pesan, atau melarikan diri. Berhentilah sejenak dan berdoa:

“Tuhan, bagian diriku ini merasa takut karena .
Aku tidak sanggup menguasainya.
Tetapi Engkau adalah tempat perlindungan dan kekuatanku.
Tolong aku mengambil langkah yang setia bersama-Mu.”

Lalu pilih satu tindakan nyata yang dapat diandalkan dan dipercayai: hubungi seseorang yang dapat mendukungmu dalam doa.  Tuliskan keadaanmu yang benar di buku catatanmu. Berjalanlah tanpa membawa ponsel. Bacalah Mazmur 46, atau tahan selama 24 jam Keputusanmu yang didorong oleh ketakutan. 

BERDOALAH

Bapa, ketika tanah yang kupijak terasa berguncang, ingatkan aku bahwa Engkau tidak berubah. Ampuni aku karena sering lari terlebih dahulu kepada kekuatan diri sendiri, kepada godaan, kepada uang, kepada kesuksesan dan kepada perlindungan yang bersifat sementara. Datangkanlah hadiratmu pada bagian diriku yang ketakutan. Jadilah tempat perlindungan dan kekuatanku dalam kesesakan. Ajari aku bersandar sepenuhnya di dalam Kristus ketika badai hidupku bergelora. Amin.-------------------

Next
Next

PART 2: Sungai yang Mengalir ke Tempat Kering